Rabu, 28 April 2010

Terang Boelan


Sejak dulu zaman Bung Karno hubungan Indonesia dan Malaysia memang bagai api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa membara jika ada pemicunya. Kalau dulu hubungan panas tersebut muncul karena faktor geografis, sekarang penyebabnya beraneka ragam, mulai dari persoalan TKI yang disiksa di Malaysia, Ambalat, klaim Malayasia terhadap produk budaya Indonesia, seperti lagu Rasa Sayang-sayange, lagu Jali-jali, reog Ponorogo, pematenan terhadap batik, rendang Padang, tari pendet dari Bali, dan yang terbaru adalah lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, yang dituding menjiplak lagu keroncong Terang Boelan.

Rakyat Indonesia tentu gemas dan marah dengan sikap Malaysia itu. Media di Indonesia ramai memberitakan aksi protes dan kemarahan rakyat Indonesia. Api di dalam sekam mulai membara kembali. Kemarahan rakyat Indonesia kepada Malaysia diwujudkan dalam bentuk seperti demo, protes, hacking web Malaysia, mengganti kata Malaysia dengan Malingsia, bahkan sampai pada kesiapan untuk berperang dengan Malaysia. Di level perguruan tinggi, beberapa PTN di Indonesia seperti Undip Semarang dan UNS Solo menghentikan menerima mahasiswa asing asal Malaysia sebagai wujud nasionalisme mereka.

Tetapi, bagaimana dengan sikap warga Malaysia sendiri? Seorang wartawan Indonesia pernah melaporkan bahwa sebagian besar warga Malaysia tidak tahu menahu tentang aksi demo dan protes di Indonesia itu. Dia mengatakan bahwa ketika ramai demo tentang kasus Ambalat, di Malaysia tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada persoalan. Tidak ada aksi balasan serupa di sana ketika di Indonesia ada sekelompok orang yang siap bertempur di garis depan dengan Malaysia. Bahkan rakyat Malaysia sendiri tidak tahu tentang Ambalat itu apa, apalagi perselisihan mengenai Ambalat itu.

Tentu saja begitu, karena pers di Malaysia dikontrol oleh Pemerintah. Tidak ada kebebasan pers dan kebebasan bersuara di sana. Jadi, jangan harap media massa di Malaysia memberitakan tentang aksi demo orang Indonesia terhadap Malaysia. Warga Malaysia tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan harap pula mereka akan membaca media massa online Indonesia untuk mengetahui peristiwa yang diributkan, sebagaimana kita tidak pernah membaca media online mereka. Mungkin sebagian besar orang Malaysia menganggap hubungan dengan Indonesia baik-baik saja. Akhirnya, aksi kemarahan bangsa tidak bergaung di Malaysia. Kita marah dan berharap orang Malaysia tahu dengan kemarahan itu agar mereka malu atau terpancing. Tapi, harapan kita tidak terwujud.

Bagi Malaysia, “musuh” mereka sebenarnya adalah Singapura. Singapura negeri kecil yang terletak di “kaki” Malaysia, namun meskipun kecil tetapi negeri singa itu suka ngelunjak atau apalah namanya, yang membuat geram Pemerintah Malaysia. Indonesia sebenarnya juga bermasalah dengan Singapura terutama dengan sikap Singapura yang melindungi para koruptor Indonesia yang melarikan diri ke sana, sebelumnya tentang pembelian pasir dari Kepulauan Riau untuk menguruk pantai Singapura sehingga daratannya makin luas yang berarti batas teritorinya bertabrakan dengan Indonesia.

Yah, begitulah, hubungan antara Indonesia dan Malaysia itu bisa disebut 3B, benci-benci butuh. Malaysia membutuhkan TKI dan turis dari Indonesia, sedangkan Indonesia membutuhkan lapangan pekerjaan di Malaysia bagi jutaan rakyatnya. Sulit bagi Pemerintah bersikap tegas kepada Malaysia, apalagi sampai memutuskan hubungan diplomatik. Terlalu besar resikonya. Kepala dingin diperlukan untuk menyelesaikan banyak masalah antara kedua negara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

berapa kalikah dalam sehari anda membuka facebook??

Laman