Rabu, 28 April 2010

Malaysia Sedang Alami Krisis Identitas

Minggu, 06 September 2009 | 05:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Direktur Jenderal Asean Departemen Luar Negeri, Djauhari Oratmangun, menegaskan bahwa Malaysia sedang mengalami krisis identitas. "Malaysia sedang dalam proses mencari jati diri," kata Djauhari menanggapi klaim Malaysia terhadap sejumlah kebudayaan Indonesia.
Menurut dia, 50 persen penduduk di Malaysia adalah keturunan Melayu, sisanya keturunan Cina dan India. Orang Melayu saat ini sedang mencari identitas diri. "Suka atau tidak suka, 50 persen orang Malaysia adalah keturunan Indonesia dan mereka membawa budaya itu ke sana," ungkap Djauhari.

Begitu pun tari Reog Ponorogo yang pernah menjadi masalah di Malaysia, sebenarnya juga diperkenalkan dan ditarikan oleh orang Ponorogo, Jawa Timur, yang sudah bermukim di sana selama tiga generasi.


Khusus tari Pendet dari Bali yang diklaim sebagai kebudayaan Malaysia, Djauhari menerangkan, iklan tersebut diproduksi untuk promosi wisata negara itu, tetapi saat diproduksi tidak ada tari Pendet. Namun, Discovery Chanel yang menayangkan iklan kemudian menambahkan tari kesayangan rakyat Bali dalam iklannya.

"Kesalahannya adalah Discovery tidak menyebutkan bahwa tari pendet berasal dari Indonesia." Ia menegaskan pemerintah Indonesia sudah mengirim surat protes yang diakui sebagai produk hukum internasional kepada Malaysia dan telah diterima.

"Mereka telah menerima klaim kalau itu (tari Pendet) adalah milik kita. Penyelesaian secara diplomasi telah dilakukan dan itu sudah cukup, apalagi Presiden Susilo Bambang Yudyohono juga telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Malaysia," ujarnya.

Lagi pula, kata Djauhari, Malaysia tidak pernah mengklaim secara resmi bahwa tari Pendet adalah milik Malaysia, dan itu hanya klaim di Internet. Djauhari Oratmangun meminta seluruh masyarakat Indonesia menilai persoalan ini secara positif bahwa produk budaya Indonesia ternyata sangat laku dijual.

"Ini membuktikan budaya kita sangat kuat dan terkenal di dunia internasional. Kelemahan orang Indonesia adalah jarang memelihara budayanya dan baru akan protes jika pihak luar mengklaim suatu produk budaya kita sebagai budaya mereka," katanya

Dia juga menyesalkan sikap media di Indonesia yang ramai memberitakan aksi protes terhadap budaya Indonesia yang diklaim negara tetangga, termasuk mempengaruhi masyarakat untuk melakukan ganyang terhadap negara tetangga itu.

Dia meminta media di Tanah Air lebih arif dan bijaksana memberikan masalah ini, mengingat presentase berita seni dan budaya di Indonesia di media nasional sangat jarang dimuat atau diulas secara luas.

"Program acara atau berita untuk reservasi budaya kita sangat kurang di media nasional. Tetapi kalau budaya asing banyak," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

berapa kalikah dalam sehari anda membuka facebook??

Laman